Sukses menyabet penghargaan Best Actress terbaik dalam Sitges International Film Festival pada Oktober 2017 lalu, aktris cantik Marsha Timothy kembali mengukir prestasi. Ia masuk dalam nominasi aktris terbaik dalam ajang penghargaan bergengsi Asian Film Awards.
Perannya sebagai Marlina dalam Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak lah yang mengantarkan Marsha Timothy masuk dalam nominasi tersebut.
Marsha akan bersaing dengan nama-nama besar dari Asia, seperti Yu Aoi (Birds Without Names), Kim Min Hee (The Day After), Sylvia Chang (Love Education), dan Zhou Dongyu (This is Not What I Expected.
Asian Film Awards sendiri merupakan ajang tahunan yang mulai digelar pertama kali di tahun 2007 silam oleh Hongkong International Film Festival Soecity. Tujuannya adalah untuk memberikan apresiasi dan merayakan bakat-bakat terbaik di industri film Asia. Di tahun 2018 ini, Asian Film Awards akan diselenggarakan di Makau pada bulan Maret mendatang.
Komentar Marsha Timothy Saat Mengetahui Namanya Masuk Nominasi
Ibu satu anak ini mengaku sangat senang dan bangga atas kabar baik tersebut. Ia tidak menyangka namanya akan disejajarkan dengan aktris terbaik di Asia.
“Saya merasa terhormat menjadi nominasi untuk penghargaan ini bersama talent-talent terbaik di Asia,” katanya seperti dikutip Kompas.
Bukan Pertama Kalinya
Jauh sebelum nama Marsha Timothy masuk dalam nominasi Asian Film Awards, ada nama Donny Damara yang menyabet penghargaan Aktor Terbaik Asian Film Awards 2012 berkat aktingnya yang memukau dalam film Lovely Man.
Sutradara Mouly Surya juga pernah masuk nominasi melalui karyanya yang berjudul What They Don’t Talk About When They Talk About Love. Sutradaea Teddy Soeriaatmadja juga pernah mendapat nominasi untuk sutradara terbaik.
Sinopsis Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak
Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak mengisahkan tentang sekawanan perampok yang menjadikan rumah Marlina, seorang janda di kampung tersebut sebagai target. Berbekal pengalaman merampok yang handal, kawanan tersebut memulai aksinya.
Tak hanya berniat mengambil harta saja, mereka juga mengancam nyawa dan kehormatan Marlina di hadapan mendiang suaminya, yang berbentuk mumi, tepat di pojok ruangan. Kematian sang suami pun meninggalkan tumpukan utang yang harus ia bayar.
Merasa terancam, Marlina membela diri dengan meracuni anggota kawanan tersebut, sedangkan pemimpinnya, Markus, kepalanya ia penggal.
Demi mencari keadilan, Marlina membawa kepala Markus menuju kantor polisi. Di perjalanan ia bertemu dengan Novi (Dea Panendra) yang tengah menunggu kelahiran jabang bayi. Sementara Franz (Yoga Pratama) menginginkan kepala Markus. Markus menguntit Marlina, tanpa kepala.
Marlina The Murdered in Four Acts Kisah Nyata
Siapa sangka bahwa Garin Nugroho selaku penulis naskah Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di Sumba.
Garin sengaja mengangkat kisah tersebut ke dalam layar lebar untuk dibagikan pada seluruh masyarakat Indonesia.
“Kisah nyata. Waktu itu ke Sumba tahun 1986 sama tahun 2004 antara 6 sampai 7 kali ada kejadian di pasar. Orang dendam sakit hati, dia jalan ke pasar lalu orang yang sedang jualan dipotong lehernya, dibawa kepalanya. Kemudian dia nyerahin diri ke kantor polisi,” cerita Garin.
Bak gayung bersambut, Garin yang mengutarakan niatnya pada Mouly Surya mendapat lampu hijau untuk film yang mulanya hendak diberi judul Cerita Perempuan.
“Ide ceritanya berbentuk story plan. Akhirnya, mas Garin terserah mau diapain ceritanya. Konsep 5 halaman lagi. Kami coba tulis ulang dan di situ kami coba bikin skenario,” kata Mouly.
Demi filmnya, Mouly pun terbang ke Sumba untuk melihat dan merasakan bagaimana suasana asli sehingga pada filmnya nanti, penonton akan ikut terhanyut dalam kisahnya.
“Dari mas Garin settingnya Sumba dan saya belum pernah ke Sumba. Akhirnya kami ke Sumba. Saya mulai tuh flirting dan ide membuat film ini jadi sebuah film western. Saya lihat di Google Image tuh banyak gambar-gambar kayak padang Savvanah, tapi desicionnya nggak langsung.”
Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak telah ditayangkan di bioskop Indonesia pada 16 November 2017 setelah sebelumnya wara-wiri di festival film nasional dan internasional.
Karya yang dimuat ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi layar.id.